Kamis, 26 Januari 2012

Bagaimana Cara Memotret Siluet



Siluet adalah foto dengan obyek utama gelap total dengan background yang terang, sehingga yang terlihat adalah bentuk dari obyek utama tadi. Memotret siluet tidaklah sesulit yang dibayangkan, asal anda tahu langkah-langkah dan tips-nya. Silahkan:

Matikan Flash

Yang pertama dan terpenting adalah flash di kamera harus dimatikan, kalau tidak anda akan mendapatkan foto biasa (karena obyek utama-nya tidak jadi gelap). Jadi matikan flash dikamera anda

Cari kondisi pencahayaan yang tepat (backlight)

Untuk menghasilkan siluet, background anda harus lebih terang dibandingkan dengan obyek utama. Itulah kenapa kebanyakan foto siluet dilakukan saat sunset atau sunrise, dimana matahari (sumber cahaya) ada di belakang obyek yang ingin anda foto (backlighting). Tapi jangan batasi diri, foto siluet bisa dihasilkan kapan saja, pada intinya anda hanya harus menemukan background yang lebih terang dibandingkan obyek utama.

Carilah obyek yang bentuknya menarik

Foto siluet akan sangat menonjolkan bentuk obyek utama, oleh karena itu carilah obyek dengan bentuk yang menarik dan memiliki karakter kuat. Perhatikan foto diatas, karena obyek utama (pencari ikan) kehilangan detail dan menjadi sangat gelap, bentuknya justru akan lebih terekspos. Kita bisa melihat dengan jelas batas-batas lekukan bentuk tubuh si nelayan, bentuk jaring dan bingkainya sampai tetesan air yang keluar dari jaring. Anda juga bisa mencoba dengan obyek lainnya.

Carilah background yang tepat

Untuk mendapat siluet anda harus menemukan background yang lebih terang. Usahakan juga untuk mendapatkan background yang menarik namun juga tidak ramai sehingga obyek utama terlihat sangat menonjol. Langit dan pantai adalah contoh favorit.

Ukur eksposur dengan tepat (manual/ auto)

Sebisa mungkin gunakanlah mode manual eskposur. Set metering di spot metering. Lakukan pengukuran di daerah background yang paling terang. Dalam contoh foto diatas saya mengukur cahaya langit diatas helm. Ubahlah kombinasi aperture dan shutter speed sesuai dengan hasil metering anda, terutama pada aperture pastikan anda set sesuai keinginan anda (aperture besar untuk background yang agak kabur dan aperture kecil untuk background yang tajam). Setelah anda menentukan aperture dan shutter speed yang dipilih, arahkan kamera ke obyek utama. Aturlah h3 yang terbaik dan tentukan fokus di obyek utama, baru kemudian jepret….
Jika anda tidak bisa menggunakan mode manual, gunakanlah mode auto. Arahkan kamera ke area paling terang, dalam contoh diatas adalah ke langit diatas si pencari ikan, pencetlah setengah shutter anda (jangan pencet penuh) lalu tahan shutter jangan dilepas. Lalu arahkan kamera ke obyek utama anda baru kemudian jepret….

Jangan takut mencoba

Cobalah kombinasi aperture dan shutter speed yang berbeda jika anda gagal di kesempatan pertama. Cobalah juga bereksperimen dengan obyek dan lingkungan anda, jangan hanya terpaku pada sunset dan sunrise, karena foto siluet bisa dihasilkan dimanapun (silahkan lihat juga 8 contoh foto siluet kreatif ini).

 
Oke selamat mencoba!!


 http://belajarfotografi.com/tips-foto-bagaimana-cara-memotret-siluet/

Antara Menulis dan Berbicara



Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih. Sementara berbicara mungkin cuma butuh pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara, terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga untuk mendengar kata yang diucapkan, dan lidah berusaha untuk mengikutinya dengan kata yang kita upayakan untuk dikeluarkan. Itu sebabnya, anak kecil yang sehat dan normal (matanya dapat melihat, telinganya dapat mendengar, dan lidahnya bisa digerakkan untuk berkata) maka umumnya akan dengan mudah mengikuti. Itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi. Jadi, anak kecil yang ingin belajar bicara tak memerlukan belajar huruf-huruf terlebih dahulu, tak butuh juga dengan seabrek teori menulis, dan bagaimana merangkai kata yang baik. Ia akan dengan spontan mengikuti setiap huruf yang diucapkan orang lain (entah ibunya, ayahnya, kakaknya, temannya, dan lain-lain). Mereka (termasuk kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit. Mengalir apa adanya.


Nah, sementara menulis, ini memerlukan keterampilan tambahan. Bahkan motivasi tambahan pula. Karena apa? Karena menulis bukan bakat, karena menulis memang sangat berbeda dengan berbicara.
Banyak orang bisa berbicara, bahkan fasih, meski ternyata ia buta huruf. Sementara orang yang bisa menulis, sangat mustahil bila ia penderita buta huruf. Mungkin ini pula yang membedakan kemampuan setiap orang dalam menulis. Intinya, nggak semua orang bisa menulis, meski berbicaranya sangat fasih dan bahkan retorikanya bagus. Oh ya, meski bicaranya tidak bagus, tetapi minimal ia memang bisa bicara. Bisa berkomunikasi secara verbal (kata-kata) dengan orang lain. Iya nggak?

Jadi menurut saya sih, orang yang bisa menulis adalah orang yang seharusnya merasa bahagia. Karena apa? Karena bisa melakukan keterampilan yang jarang dilakukan oleh orang yang sehat dan normal lainnya. Umumnya, semua orang yang sehat dan normal bisa berbicara, tapi tak semua dari mereka bisa menulis. Ini pun dikelompokkan jadi dua: pertama, orang yang tidak bisa menulis sama sekali alias buta huruf; dan kedua, orang yang tidak bisa menulis dalam pengertian menyampaikan pesan lewat tulisan. Dari dua kelompok itu, mereka sama-sama bisa berbicara, tapi nggak bisa menulis. Betul ndak?

Ayo menulis!

Alirkan ide-idemu untuk berkarya lewat tulisan. Rugi banget kalo sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan lewat tulisan. Padahal, itu sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara. Kita memang bisa menyampaikan pesan lewat kata-kata (berbicara), tapi tak selamanya pesan bisa sampe dengan mudah. Jika kamu menelepon seseorang, ingin mengerahkan kemampuanmu untuk menyampaikan kehebatanmu dalam berbicara untuk mempengaruhi dia, sementara ponselnya pas kamu nelepon nggak diaktifkan, itu artinya ada hambatan. Apa yang ingin kamu sampaikan menemui jalan buntu. Minimal harus menunggu sampe ponsel temanmu diaktifkan.

Dan lagi nih, kamu tentunya nggak bisa terus-menerus berada dalam kondisi siap untuk menelepon. Adakalanya, kamu justru berada dalam kondisi harus menyampaikan pesan lewat tulisan. Misalnya kamu sibuk, sementara untuk memberi tahu teman kamu dengan berbicara di telepon akan memakan waktu, apalagi kalo kamu seneng ngobrol. Maka, langkah efektif adalah dengan mengirim SMS ke ponselnya, atau mungkin kirim e-mail, atau bisa aja nulis memmo untuknya karena ketika kita sampe ke rumahnya dia nggak ada. Kita tempelin deh memmo berisi pesan tertulis kita. Tapi, itu pun masih dengan catatan: ia aktifkan ponselnya; buka e-mail, dan tak sedang keluar kota. Berarti ini soal kendala teknis. Terlepas dari itu, keterampilan menulis tetap harus dimiliki. Minimal sebagai keterampilan pelengkap untuk menyampaikan pesan bagi yang sudah terbiasa dan mahir retorikanya dalam berbicara. Setuju?

Sobat, nggak usah dibikin rumit ketika kita akan menulis. Saya juga termasuk yang bisa menulis bukan berawal dari teori. Saya menulis, kalo saya pengen nulis apa yang membuat saya lega ketika menuliskannya. Saya menulis surat buat teman dan orangtua saya, menulis puisi, menulis catatan harian, bahkan saya menulis cerpen meski ketika dibaca lagi seringnya nggak nyambung. Tapi, saya berkeras ingin bisa menulis.

Waktu SMP, ketika seneng nulis, saya nggak punya mimpi jadi penulis. Saya hanya seneng aja setiap kali membaca buku sejak SD. Dalam pikiran saya, “Saya bisa membaca dan mudah untuk mengerti pesan yang disampaikan penulisnya, pasti si penulis itu adalah orang yang hebat dalam menyampaikan pesan secara tertulis.”

Sejak saat itu saya secara sederhana ingin juga bisa menulis. Tapi tetep belum kepikiran ingin jadi penulis. Biasa aja gitu.

http://pejuangpena13.wordpress.com/2011/07/07/antara-menulis-dan-berbicara/

Presenting The Future



Catatan Kepala: ”Tidak seorang pun tahu pasti yang akan terjadi dimasa depan. Namun kita bisa memperkirakannya dari cara hidup masa kini.”
 
Presenting the future. Kalimat yang menarik, bukan? Membawa masa depan kepada kekinian. Maaf, kalimat ini bukan sebuah jargon yang sekedar enak didengar atau keren untuk diucapkan. Bagi saya, kalimat itu memiliki makna yang teramat dalam. Mengapa? Karena kita semua menginginkan masa depan yang lebih baik, bukan? Kita terikat kepada masa depan. Itulah sebabnya mengapa kita menabung. Mengapa kita bekerja. Mengapa kita menjalani hari-hari kita dengan yang seharusnya. Karena jika tidak ada masa depan, mungkin kita sudah sejak lama menyerah. Jika tidak ada masa depan, mengapa Anda mau bersusah payah melakukan pekerjaan itu? Jika tidak ada masa depan, mengapa Anda masih mau keluar rumah pagi-pagi sekali, berjibaku dibawah tatapan matahari, dan baru pulang dimalam hari? Masa depan, itulah alasan kita. Pertanyaannya adalah; masa depan kita akan menjadi seperti apa ya……?    
 
Pekan lalu, saya berkesempatan untuk menjadi narasumber dalam sharing session di The Jakarta Futures Exchange (JFX). Dalam hubungan dengan JFX itulah saya pertama kali mengenal motto itu. Sekarang Anda tahu jika kalimat itu bukan saya yang membuat. Saya meminjamnya dari JFX yang tengah berbenah diri melakukan perubahan untuk menuju masa depan yang lebih baik. Jauh-jauh ngomongin JFX, buat kita pribadi apa manfaatnya? Oh, banyak sekali. Kalau JFX melakukan perubahan di tingkat korporasi, maka kita bisa melakukannya di tingkat pribadi. Perusahaan berbicara soal visi. Kita pun sama-sama ingin melihat masa depan yang lebih baik. Maka presenting the future itu memiliki revelansi yang tinggi dengan proses pertumbuhan setiap pribadi. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar dari motto presenting the future, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:
 
1.      Mulai dengan membidik ke masa depan. Membidik ke masa depan adalah langkah pertama yang perlu kita lakukan. ‘The future’, kalau kata teman-teman di JFX. Dimasa depan ada begitu banyak alternatif atau pilihan berupa berbagai kemungkinan. Nah, kita mau memilih kemungkinan yang mana. Sederhananya, kita ingin mewujudkan masa depan seperti apa. Jadi dasarnya bukanlah menebak-nebak masa depan kita ‘akan’ menjadi seperti apa. Melainkan kita merancangnya ‘supaya’ menjadi seperti apa. Lho, apakah ada bedanya? Ada. Meramalkan akan menjadi seperti apa masa depan itu hanya sekedar ‘nrimo’. Hanya meneropong. Apapun yang akan terjadi, ya kita sekedar tahu. Kalau sudah tahu, so what? Kalaupun ada gunanya hanya sedikit. Tetapi merancangnya supaya menjadi apa, memiliki arti yang berbeda sekali. Itu adalah geliat. Cita-cita. Atau tekad.  Kita melihat adanya kemungkinan bahwa masa depan kita akan menjadi seperti yang kita inginkan. Maka begitu melihat alternatif itu, kita membidiknya kearah itu. Bukankah kita selalu mempunyai kemerdekaan untuk berjalan kearah mana saja? Jika demikian, kita pun merdeka untuk membidik masa depan pada opsi atau pilihan kemungkinan yang mana pun.
 
2.      Tetap berpijak kepada hari ini. Mengejar masa depan sering membuat kita lupa untuk berpijak pada hari ini. Padahal, tidak ada masa depan yang ‘putus hubungan’ dengan hari ini. ‘The present’, teman-teman di JFX bilang. Ada keterkaitan erat antara the future dengan the present. Maka tugas kita adalah ‘presenting the future’, yaitu; menjadikan masa depan sebagai agenda utama kita hari ini. Sederhananya, kita perlu mengindahkan tindakan dan perilaku kita hari ini agar bisa mendukung terwujudnya masa depan yang kita inginkan. Mari perhatikan sekali lagi, betapa kita mengimpikan masa depan yang indah dan menyenangkan. Kita tahu bahwa untuk mewujudkannya kita harus memiliki kualitas pribadi tertentu, misalnya. Namun, hari-hari kita tidak dijalani dengan usaha untuk mengasah diri hingga mencapai tingkatan yang memungkinkan kita mewujudkan masa depan itu. Jika kita menyia-nyiakan hari ini, maka jalan menuju ke masa depan yang kita inginkan akan menjadi semakin panjang. Sebaliknya jika kita benar-benar mengoptimalkan ‘hari ini’, maka kita memiliki peluang lebih besar untuk meraih apa yang kita inginkan.  
 
3.      Lintasi naik-turun perjalanannya. Jika kita masih merasa perjalanan ini hanya menanjak saja atau menurun melulu, mungkin kita belum berjalan cukup jauh. Jadi, jangan dulu mengeluh. Beratnya tanjakan. Atau mengerikannya turunan curam. Itu hanya sementara saja. Jika yakin bahwa itu jalan terbaik menuju ke masa depan yang kita inginkan itu, maka tidak ada pilihan lain kecuali menjalaninya, bukan? Kecuali jika Anda tidak yakin. Ya jangan tinggal terus di jalan itu dong. Cari, jalan mana yang Anda yakini. Harga komoditas juga sama; kadang naik, kadang turun. Saat naik teman-teman di JFX gembira karena kenaikan itu mengindikasikan peluang mendapatkan laba. Pada saat turun juga teman-teman JFX tetap gembira, karena itu mengisyaratkan untuk bersiap-siap menanamkan investasinya. Kita, mungkin perlu belajar kepada mereka. Agar ketika melintasi jalan mendaki kita tetap optimis bahwa pendakian itu akan membuat nilai diri kita semakin tinggi. Sedangkan ketika meluncur pada turunan curam, kita juga tetap yakin bahwa turunan itu bisa menumbuhkan rasa syukur yang mendalam. Dengan begitu, kita selalu memiliki optimisme yang ditemani oleh rasa syukur. Sebab, optimisme memberi kita energy untuk terus melangkah. Sedangkan rasa syukur memampukan kita untuk menikmati apa yang kita miliki. Jadi, saat melintasi jalur naik dan turunnya; ya jalani saja.
 
4.      Waspada terhadap berbagai godaannya. Di sepanjang perjalanan kita ada banyak sekali persimpangan, perempatan atau pertigaan. Banyak juga jalan kecil dan gang. Semuanya bisa membelokkan kita kearah yang tidak menuju ke tempat yang kita ingin datangi. Perjuangan kita juga selalu dirubungi oleh berbagai macam godaan. Diantaranya berupa kenikmatan dan kesenangan yang memiliki daya tarik sedemikian besarnya. Sejak kemarin misalnya, layar televisi kita dipenuhi oleh tayangan sebuah sidang yang menghadirkan saksi seorang pejabat tinggi keuangan di sebuah perusahaan. Dari kesaksian beliau, terungkap nama-nama populer yang sesungguhnya memiliki masa depan yang cemerlang. Dalam 10-30 tahun mendatang beliau-beliau itu bisa meraih pencapaian yang sangat tinggi. Namun persidangan itu mengungkapkan betapa besarnya godaan kenikmatan. Jika semuanya itu terbukti, mungkin kita akan melihat perjalanan orang-orang cemerlang terhenti di sebuah belokan tajam yang pada awalnya terlihat indah; namun ternyata membawa para penempuhnya ke jurang kejatuhan. Perjalanan kita menuju masa depan pasti diwarnai berbagai godaan. Semoga kita semua mampu untuk mengatasinya.
 
5.      Menyiapkan masa depan yang sebenarnya. Masa depan yang Anda maksud itu seperti apa sih?  Usia 45 tahun sudah kaya raya? Pada saat pensiun sudah punya sawah atau kantor megah? Percayalah, saya pun memiliki keinginan yang sama dengan semua yang Anda inginkan itu. Pertanyaannya adalah; jika nanti kita sudah mencapai semua itu, lantas kita akan menggunakannya untuk apa? Diwariskan pada keturunan. Bagus. Dibelikan pulau pribadi. Mantap. Dibuatkan tugu peringatan. Keren. Apa lagi? Jika hanya sekedar seperti itu, apa iya yang kita lakukan untuk meraihnya benar-benar sepadan? Jika setelah meninggal kita tidak lagi menikmatinya, apa masih layak dikejar ya? Oh, tentu saja. Kita pantas mengejarnya. Namun, kita perlu selalu mengingat bahwa ada ‘masa depan’ lain yang menanti kita. Yaitu masa depan yang kualitasnya ditentukan oleh jawaban atas pertanyaan ini;’selama hidup, elo ngapain aja?’. “Duit elo yang banyak itu, datangnya dari mana?’. “Pegimane cara mendapatkannya?’. Dan satu lagi; “Pegimane elo membelanjakannya….?’. Secara pribadi saya mengharapkan pertanyaan seperti itu. Bukan hendak menantang Tuhan. Melainkan mengharapkan keadilan. Supaya orang-orang baik mendapatkan imbalan atas kebaikannya. Sedangkan orang-orang yang telah berbuat semena-mena belajar bertanggungjawab atas perbuatannya. Dengan kesadaran itu, semoga kita lebih tertarik untuk menyiapkan masa depan yang sebenarnya itu.
 
Di JFX, kita bisa membuat kesepakatan tentang harga komoditas untuk jangka waktu tertentu dimasa depan. Begitu jatuh tempo, kita mendapatkan jaminan harga sesuai yang tertera dalam kontrak, meskipun di pasar sedang terjadi kekacauan. Guru kehidupan saya bercerita tentang sebuah kontrak yang sudah disepakati oleh setiap insan. Yaitu kontrak yang dibuat antara dirinya dengan tuhannya jauh sebelum dia dilahirkan. Bunyinya begini; “Alastu birobbikum?” (Bersediakah engkau bersaksi bahwa aku adalah satu-satunya tuhanmu?) Begitu Tuhan bertanya. Lalu ruh yang belum dipertemukan dengan jasad itu menjawab; “Balaa, syahidna” (Benar Tuhanku, aku menjadi saksi atasnya). Perjanjian itu terjadi antara setiap pribadi dengan Sang Pencipta. Dan dimasa depan, Tuhan akan menagih janji itu. Janji yang sepatutnya tidak berubah. Karena apapun yang terjadi diluar sana, nilai perjanjian kita tetap berlaku. Siapkah kita untuk memenuhi seluruh isi perjanjian itu jika kelak tiba saatnya naskah perjanjian yang kita buat itu telah ‘jatuh tempo’? Semoga. 
 
milis wordsmartcenter
www.dadangkadarusman.com

Selasa, 24 Januari 2012

Menyeimbangkan Akal Dan Kalbu

 
 
 
Catatan Kepala: ”Kesempurnaan manusia tidak semata-mata terletak pada akalnya saja, melainkan juga kalbunya. Maka kesempurnaan hidup hanya bisa dicapai jika seseorang memiliki keseimbangan dalam penggunaan akal dan kalbunya.”
 
“Kamu itu Hitachi, Nak.” Begitu saya katakan kepada anak saya. “Hitam, Tapi China.”  Baru kemarin saya ingatkan lagi tentang hal itu dalam perjalanan kami menuju ke Bandara. Berkaitan dengan Imlek? Tidak juga. Namun meski tidak merayakannya, saya selalu terkesan pada salah satu falsafah kuno Chinese yaitu, Yin dan Yang.  Kita selalu diingatkan untuk menyeimbangkan segala sesuatu. Namun, keseimbangan itu seperti apa? Apakah seperti timbangan yang punya bobot sama di kiri dan kanan kedua kompartemennya? Tidak juga. Jika Anda masih ingat symbol Yin-Yang, maka Anda akan lebih mudah memahami makna kesimbangan itu. Atau, jika Anda melihat sampul buku terbaru saya Natural Intelligence Leadership, Anda tentu melihat logo itu dihiasi hati yang mewakili Kalbu dan lampu yang menggambarkan Akal. Saya menggunakan symbol Yin-Yang itu untuk menggambarkan kesimbangan antara Akal dan Kalbu. Menurut pendapat Anda, mana yang lebih penting: Akal atau Kalbu?
 
Ada masa dimana kita mendewakan kekuatan akal. Orang yang paling encer otaknya diberi nilai lebih. Ada pula periode dimana kita mengagung-agungkan kalbu. Siapa yang paling baik pengelolaan emosional-spiritualnya digadang-gadang sebagai pribadi yang mumpuni. Tidak heran jika penganut kecanggihan IQ tidak juga sejalan dengan para pengusung kehebatan EQ dan SQ. Kenyataannya, manusia diciptakan dengan Akal dan Kalbu yang saling menyatu secara utuh. Maka, mulai sekarang; marilah memperlakukan diri kita sendiri secara utuh pula. Kita tidak bisa terus menerus mendiskreditkan salah satu dari kekuatan akal atau kalbu itu. Kesempurnaan hidup itu hanya bisa dicapai jika seseorang memiliki keseimbangan dalam penggunaan akal dan kalbunya. Karena kesempurnaan manusia tidak semata-mata terletak pada akalnya saja, melainkan juga kalbunya.
 
Keseimbangan antara Akal dan Kalbu inilah sebenarnya yang menjadi inti dari Natural Intelligence (NatIn™). Tidak mungkin manusia mencapai puncak dari kualitas penciptaan dirinya tanpa memaksimalkan kapasitas akal dan mengoptimalkan potensi kalbunya. Makanya, tidak heran jika kita sering melihat orang yang pandai dalam mengambil keputusan. Jago berbicara dalam setiap persidangan. Namun kata, perilaku, dan buah dari tindakannya jauh dari ciri pribadi yang memiliki nurani. Atau sebaliknya, banyak juga orang yang terlihat sedemikian salehnya. Namun, sangat tidak kompetitif.
 
Kebutuhan kita dalam menyimbangkan Akal dan Kalbu berlaku untuk semua aspek kehidupan. Karena tidak ada satu aspek pun dalam hidup kita yang terlepas dari peran akal, dan peran kalbu. Mendahulukan akal, tidak berarti mengabaikan kalbu. Sebaliknya, mendahulukan kalbu tidak berarti menihilkan fungsi akal. Keduanya harus dipakai. Mungkin hanya porsinya saja yang berbeda bergantung konteksnya. Seberapa banyak porsi akal dan porsi kalbu yang tepat? Anda bisa menakarnya melalui symbol Yin dan Yang. Disana Anda bisa tahu, kapan saatnya Anda harus menggunakan Akal lebih banyak dari Kalbu atau sebaliknya. Atau, pada kondisi tertentu keduanya digunakan dalam proporsi yang sama.
 
Kenapa sih untuk seimbang kita tidak menggunakan prinsip timbangan saja? Kiri kanan 1 kg pasti seimbang? Tidak bisa. Karena timbangan hanya menggunakan pertimbangan akal yang eksak. Prinsip timbangan menghasilkan kesetimbangan statis (Static Equilibrium). Sedangkan prinsip Yin & Yang menjelaskan tentang Kesetimbangan Dinamis (Dynamic Equilibrium) yang menjaga ‘keseluruhan energi’ (universal wholeness) dimana didalamnya memungkinkan kita untuk meramu Akal dan Kalbu dalam proporsinya masing-masing. Ketika kita bisa menggunakan Akal dan Kalbu secara seimbang dan dinamis itu, tidak berarti kita selalu menggunakan keduanya sama banyaknya. Melainkan sesuai dengan tuntutan untuk menghasilkan keputusan atau pertimbangan terbaik. Bukan untuk dunia saja. Melainkan juga untuk akhirat kita. Ketika kita bisa mencapai kesetimbangan dinamis antara Akal dan Kalbu itulah kita disebut sebagai pribadi yang memiliki tingkat Natural Intelligence (NatIn™) atau kecerdasan hakiki yang tinggi.
 
Dalam Natural Intelligence (NatIn™), kita tidak hanya mempertimbangkan urusan duniawi. Melainkan juga ukhrowi alias akhirat kita. Itulah sebabnya dalam buku  Natural Intelligence Leadership, Anda menemukan kisah-kisah teladan para Nabi. Mengapa? Karena tidak ada pribadi yang lebih layak untuk dijadikan tempat berguru selain para Nabi. Keliru jika kita mengagung-agungkan para motivator atau public speaker sambil melupakan ajaran Nabi-Nabi kita. Karena sehebat apapun para pembicara itu, tidaklah sebanding dengan kualitas para Nabi. Tidak bolehkah mendengar para public figure yang menyeru kepada kebaikan? Sangat boleh. Harus, bahkan. Tetapi, jangan sampai kekaguman kita. Kegandrungan kita. Ketundukan kita kepada para orator itu menjauhkan kita kepada fakta bahwa Tuhan, telah mengirimkan para utusannya sebagai Nabi dan Rasul bagi kita. Jangan sampai kita mendengar para trainer, namun meninggalkan ajaran para rasul.
 
Bukankah Nabi kita berbeda? Memangnya kenapa? Meski mereka berbeda, ada dua kesamaan yang dimiliki oleh pribadi-pribadi suci itu. Pertama, Para Rasul mengajak untuk menyembah hanya kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Kedua, para Nabi suci itu selalu mengajak kita untuk meraih keseimbangan hidup didunia dan diakhirat. Ketahuilah bahwa para Nabi adalah the first hand masters dalam bidang Natural Intelligence. Melalui Jibril, Tuhan membimbing mereka untuk memahaminya. Lalu mempraktekkan dan mencontohkan kepada para umatnya agar mampu menggunakan Akal dan Kalbu secara seimbang. Keseimbangan antara penggunaan Akal dan Kalbu memungkinkan kita untuk menyeimbangkan pencapaian kita di dunia dan akhirat. Jika Anda bersedia mendengar nasihat para pembicara publik – seperti saya – misalnya; bersediakah Anda untuk kembali kepada tuntunan para Nabi yang mengajak Anda kepada kehidupan di dunia dan akhirat sekaligus? Yuk, kita sama-sama mengikuti jejak langkah mereka.


 milis : wordsmartcenter
www.dadangkadarusman.com

If You 17 Again, What Would You Do?

If I could I would turn back the time
Apakah Anda masih ingat dengan bait lagu di atas? Ya, tepat sekali tebakan Anda. Bait di atas merupakan bagian dari lagu Westlife. Saya mendengarnya pertama sekali pada tahun 2002. Pada saat itu, saya sedang mabuk motivasi belajar bahasa ingris secara otodidak. Maklum, untuk ikut kursus, tempat nya terlalu jauh dari rumah saya di desa Lambadeuk, kecamatan Peukan Bada. Jadi, belajar mandirilah, solusi satu-satunya.
Sebagaimana lazimnya orang-orang yang belajar secara mandiri berbahasa ingris. Entah hal itu mitos atau memang strategi yang telah teruji. Cara termudah melatih listening dan pronounciation adalah lewat lagu. Sudah pasti yang berbait bahasa ingris. Bahkan tidak hanya itu, belajar lewat musik, sekaligus mempelajari gramar dan penambahan kata-kata baru (new vocabulary).
Seperti saya mengawali note ini. “If I could I would, turn back the time”. Pertama mendengar dan membaca liriknya, saya belum mengerti artinya. Lalu, saya bertanya kepada teman dekat yang mengajari bahasa ingris kepada saya “Itu artinya, seandainya aku mampu, aku ingin mengulang kembali masa-masa yang berlalu. Dalam bait lagu ini, mengandung ungkapan emosi penyesalan, terhadap waktu yang terlampaui”. Teman saya menjelaskan dengan detil.
17 Again
Sementara itu, bayangkan, bila Anda bisa kembali ke masa lalu. Anda mempunyai kesempatan untuk mengulang kembali hidup Anda. Apa yang akan Anda lakukan? Seperti kisah dalam film 17 again. Drama komedi mengisahkan tentang Mike, seorang bintang pemain basket pada masa jayanya berusia 17 tahun. Saat dia masih SMU. 
Tetapi, 20 tahun kemudian. Setelah Mike membangun rumah tangga dengan gadis idamannya. Dia memiliki 2 orang anak. Maggie dan Alex. Sang strudara Burr Stears mentakdirkan, kehidupan Mike berantakan. Karir dia di tempat kerja, merupakan perusahaan sepupunya, selama 16 tahun tidak berubah. Tetap di jabatan yang sama. Bahkan, istrinya mengajukan cerai ke pengadilan.
Masa-masa sulitnya itu, membuat Mike mengenang kembali akan waktu kejayaannya ketika dia SMU dulu. Dia menjadi bintang dan memiliki harga diri yang tinggi. Itulah yang mengasbabkan dia mau mengulang kembali pengalaman itu. Dia mau menata hidupnya kembali, dan membangunnya menjadi lebih baik. Dengan harapan, terbina hubungan rumah tangga nan harmonis, dan karirnya mapan.
Tidak ada yang mustahil
Bukanlah film namanya, bila hal mustahil tidak bisa terjadi. Singkat cerita, Mike pun kembali berusia 17 tahun seperti keinginannya. Tetapi, tidak mengulang ke masa lalu. Melainkan tubuh dia saja yang berubah. Bahkan temannya Ned, hampir tidak percaya kalau itu Mike. Namun, setelah melihat foto kenangan mereka masa SMU, baru Ned yakin. Kemudian, Mike mulai melakukan, hal-hal yang ingin dia ubah.
Bagi saya, yang menarik pada film tersebut adalah pengandaian sebagaimana bait westlife. I could I would, turn back the time. Mungkin pernah tersebit dalam diri Anda. Seandainya Allah mengizinkan, Anda ingin mengulangi kehidupan Anda dan menatanya kembali. Anda mungkin mau mengubah, perilaku-perilaku yang tidak menghasilkan produktifitas bagi Anda. Bisa jadi  Anda mau mengulang kembali, dan mendesign kehidupan yang lebih memprimakan kehidupan Anda. Dan hal lainnya.
Waktu yang tepat untuk berubah
Akan tetapi, saya yakin. Anda dan saya menyadari itu suatu hal yang amat mustahil. Seperti jawaban yang saya dapatkan, setelah saya bertanya kepada diri, “Mungkinkah waktu kan berulang, supaya saya bisa mengubah kehidupan saya”. Dan yang saya syukuri, selain jawaban mustahil, ada nasehat lain yang sangat bijak untuk diri saya.
Sebaik-baiknya waktu untuk mengulang kembali mengubah kehidupan mu, waktu itu adalah sekarang. Karena masa yang sudah berlalu, merupakan hadiah yang patut kamu syukuri. Dan selama Allah masih memberi amanah hidup, itulah tanda, kamu masih mempunyai kesempatan mengulang kehidupanmu dari sekarang”. 
Nasehat itu menyadarkan saya. Tidak perlua saya mengharap keajaiban terjadi dalam hidup, seperti yang dialami oleh Mike yang memperbaiki hubungan rumah tangganya, dengan cara menjadi muda kembali. Karena ada cara yang lebih tepat dan pas. Keinginan untuk berubah, dapat saya lakukan pada masa yang terbaik. Waktu itu adalah sekarang.
 
 
 
http://www.kursusnlp.com/2012/01/if-you-17-again-what-would-you-do.html

Jumat, 30 Desember 2011

Photoshop yang Aneh dan Kocak



Manipulasi photoshop adalah teknik mengedit gambar pada foto yang dilakukan melalui alat digital (mis : komputer) agar dihasilkan sebuah ilusi atau penipuan gambar.

Software Photoshop adalah software yang sangat powerful, yang dapat menghasilkan hasil karya yang luar biasa sekaligus menyenangkan pada saat yang bersamaan.

Berikut adalah beberapa koleksi hasil manipulasi dari Photoshop. Masing-masing foto diedit secara detail sehingga dihasilkan hasil karya yang menakjubkan seperti ini, membuat anda percaya bahwa segalanya mungkin dengan Photoshop.

Manipulasi Photoshop yang Aneh :

1. Huruf jatuh
manipulasi photoshop
2. Si mata banyak
manipulasi foto
3. Tangan terpotong
manipulasi photoshop
4. Tim sepak bola
manipulasi foto
5. Hantu mie
manipulasi photoshop
6. Memilih wajah
manipulasi foto
7. Ritsleting bibir
manipulasi photoshop
8. Jalan vertikal
manipulasi foto
9. Tangan dalam mata
manipulasi photoshop
10. Tiga wajah
manipulasi foto
11. Menjahit diri sendiri
manipulasi photoshop
12. Belang Zebra
foto aneh
13. Orang berlari
manipulasi photoshop
14. Sisi jahat
gambar aneh
15. Ahli mencincang
manipulasi foto
16. Tangan yang cekatan
foto aneh
17. Terpisah dua
manipulasi foto
18. Sepatu berduri
manipulasi foto

Manipulasi Photoshop yang Kocak :

19. Muka kaki
manipulasi photoshop
20. Bayi strawberry
manipulasi photoshop
21. Pukul muka
foto aneh
22. Pinguin dan semangka
manipulasi photoshop
23. Kepala ayam
manipulasi photoshop
24. Kumbang betina
manipulasi foto
25. Beban kerja
manipulasi photoshop
26. Tangan dalam kloset
gambar aneh
27. Kabel telepon atau makaroni?
foto aneh
28. Bunga telur
manipulasi foto
29. Para pekerja jalan saat istirahat
manipulasi foto
30. Tidak ada ampun
gambar photoshop
31. Tenang, tenang
gambar photoshop
32. Serangan burger
manipulasi photoshop
33. Hiu dalam sup
foto aneh
34. Yippiii….
manipulasi foto
35. Menyedot muka
manipulasi photoshop
36. Membersihkan kotoran
foto aneh
37. Menyetrika pakaian
manipulasi photoshop
38. Sinus akan membunuhku
manipulasi photoshop
39. Kotak telur
manipulasi foto
40. Mrs. Bean
manipulasi foto





Diambil dari http://www.nyebur.com/40-manipulasi-photoshop-yg-aneh-dan-kocak/

Rabu, 21 Desember 2011

Para Pejuang di Kilang

 
 
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Catatan Kepala: ”Kita sering tidak menyadari keberadaan orang-orang penting yang rela menempuh resiko demi memudahkan hidup kita.”
 
Berapa banyak bahan bakar minyak yang Anda konsumsi selama ini? Apapun jenis bahan bakar itu, kita merasa sudah ‘memilikinya’ begitu menyerahkan sejumlah uang kepada petugas POM bensin. Dengan Rp.200,000.- misalnya, kita sudah ‘memiliki’ sekitar 33,3 liter Premium atau sekitar 24 liter Pertamax. Tetapi, pernahkah Anda bertanya; apakah setiap rupiah yang kita keluarkan untuk membeli BBM itu sepadan dengan ‘pengorbanan’ orang-orang yang bekerja di kilang minyak? Dulu, saya selalu mengira demikian. Kan saya sudah membayar harganya. Bahkan kita, inginnya membayar dengan harga yang semurah-murahnya; namun maunya mendapatkan yang sebanyak-banyaknya. Hari ini, cara pandang saya berubah 180 derajat. Tahukah Anda mengapa?
 
Saya selalu gembira setiap kali berkesempatan untuk mengunjungi fasilitas dan proses produksi yang dimiliki oleh klien-klien pelatihan saya. Hal ini sangat membantu saya untuk lebih memahami; ‘apa yang mereka lakukan setiap hari’. Dengan demikian saya bisa semakin menyesuaikan materi pelatihan saya dengan keseharian aktual mereka. Terlebih lagi di industri-industri yang saya tidak memiliki pengalaman kerja di bidang itu, semisal pertambangan dan eksplorasi. Pekan lalu, saya berkesempatan untuk mengenal lebih dekat aktivitas sahabat-sahabat saya di kilang minyak milik Pertamina di Dumai. Sungguh, kunjungan itu telah membalikkan paradigma saya tentang ‘membeli BBM’. Jika selama ini saya mengira dengan membayar beberapa ribu akan menjadikan saya sebagai pemilik sejumlah Premium atau Pertamax, maka sekarang saya menyadari bahwa kita sering tidak menydadari keberadaan orang-orang penting yang rela menempuh resiko demi memudahkan hidup kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menyadari peran orang lain dalam hidup kita, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
 
1.      Selalu ada peran yang tidak kelihatan. Untuk segala hal yang kita peroleh dalam hidup kita, selalu ada peran orang-orang penting yang tidak kelihatan. Dari bis kota atau mobil angkot yang kita tumpangi,  mobil pribadi yang kita kendarai, kompor yang memasak makanan kita; semuanya – ada peran orang yang tidak terlihat yaitu mereka yang telah menyediakan bahan bakarnya. Begitu pula dengan peran orang-orang yang tidak terlihat lainnya. Ada petani. Nelayan. Atau buruh angkut. Selama ini, kita hanya melihat benda jadinya sudah tersedia dihadapan kita. Tinggal dibeli saja. Tak jarang kita memprotesnya jika ketersediaannya tidak bisa memenuhi jumlah yang kita inginkan. Kita juga menghardik setiap kali mendapati kualitasnya tidak sebaik yang kita harapkan. Kita, sering tidak menyadari; betapa banyak orang yang memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Jika menyadarinya saja tidak, maka kemungkinan besar kita jarang berterimakasih kepada jasa baik mereka. Maka belajarlah untuk memahami bahwa selalu ada peran orang yang tidak kelihatan dalam pemenuhan kebutuhan hidup kita. Dengan begitu, kita bisa semakin mampu untuk menghargai nilai dan makna hasil karya mereka.
 
2.      Kita bisa membeli barang, tapi tidak membeli orang. Melalui setiap benda yang kita dapatkan orang-orang yang ‘tidak terlihat’ itu memberikan nilai tambah kepada hidup kita. Benar, kita mendapatkan benda itu dengan membayar sejumlah harga. Namun, apakah rupiah yang kita keluarkan itu sepadan dengan jerih payah mereka? Belum tentu. Kita mengeluh dengan Pertamax seharga 8,500, misalnya. Kita juga ingin agar Premium itu jauh lebih murah dari 4,500. Padahal, jika tahu resiko yang dihadapi oleh setiap pekerja di kilang minyak; kita akan sadar bahwa uang yang kita keluarkan itu sungguh tidak sepadan dengan resiko kerja yang mereka hadapi setiap hari. Faktanya, kita hanya bisa membeli barang untuk kita nikmati. Namun, kita sama sekali tidak bisa mengkompensasi apapun resiko yang mereka hadapi saat membuat barang-barang kebutuhan kita itu. Hal ini tidak hanya berlaku untuk BBM, melainkan juga untuk beras, ikan, garam, gula atau apapun. Dengan kesadaran itu, setidaknya kita bisa mengurangi sikap arogan semata-mata karena bisa mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli setiap produk untuk memenuhi kebutuhan kita. Karena dengan uang itu, kita hanya bisa membeli barang; bukan membeli orang.
 
3.      Bayaran tidak selalu sepadan dengan pengorbanan. Sekarang, kita sadar bahwa bayaran itu tidak selalu sepadan dengan pengorbanan. Maka jika selama ini kita mengeluhkan tentang bayaran yang kita terima dari pekerjaan dikantor yang kita lakukan; mulai sekarang tidak usah lagi terlampau gusar. Ingatlah pengorbanan dan resiko para pejuang di pusat kilang. Sungguh besar sekali lho. Berapapun gaji mereka, tetap saja tidak sepadan dengan semua resiko itu. Pekerjaan kita, bisa sama beresikonya dengan mereka. Bisa juga kurang beresiko. Namun apapun itu, maka bayaran yang Anda terima itu belum tentu sepadan dengan pengorbanan yang Anda berikan. Maka berhentilah mengeluh, karena itu adalah bagian dari fakta hidup. Sebab, jika Anda mengeluh dengan bayaran yang Anda terima; bukan orang lain yang rugi. Anda sendiri. Dengan keluhan itu Anda tergoda untuk hitung-hitungan saat mengerjakan sesuatu sehingga hasilnya mungkin tidak maksimal. Dengan keluhan itu, Anda juga tidak tertarik untuk mengerahkan seluruh kapasitas, kemampuan, dan daya diri yang Anda miliki. Anda tidak akan pernah menjadi pribadi yang mumpuni hingga ke puncak prestasi, jika kinerja Anda masih dibebani oleh perasaan dibayar tidak sepadan. Ikhlaskan semua itu. Terimalah dengan lapang dada. Dan raihlah bayaran yang lebih tinggi seperti yang Anda inginkan itu – dengan kinerja dan kemampuan serta kontribusi yang juga semakin tinggi.
 
4.      Berharaplah kepada yang tidak terbatas. Sebaik apapun atasan atau boss Anda, dia selalu berhitung soal uang. Wajar. Karena setiap bisnis dituntut untuk untung. Para pengelola HRD melakukan benchmark salary dan kompensasi sehingga setinggi apapun take home pay Anda, tidak akan lari terlalu jauh dari nilai yang berlaku di pasaran. Jadi, tidak ada gunanya Anda menuntut melebihi norma umum. Memang begitulah fitrah yang berlaku bagi siapa saja yang memilih untuk menjadi karyawan profesional. Tetapi, sesungguhnya Anda memiliki kesempatan untuk mendapatkan bayaran yang jumlahnya nyaris tidak terbatas. Karena ada yang bersedia memberi Anda imbalah tanpa hitung-hitungan untung rugi. Tahukah Anda siapa yang bersedia membalas Anda sebanyak itu? Dia adalah Dzat yang tidak membutuhkan apapun dari Anda. Dan Dia, adalah tempat semula Anda datang dimasa lalu, lalu kembali lagi nanti. Maka berharaplah yang banyak kepadaNya. Karena Dia hanya mensyaratkan hal sederhana saja dari kita. Kata guru kehidupan saya; “Dia hanya membutuhkan niat yang lurus saat Anda melakukan pekerjaan kita.” Maka mulai sekarang, setiap kali berangkat dari rumah menuju ke kantor, mulailah dengan ketulusan untuk mempersembahkan setiap langkah dalam pekerjaan kita demi menunjukkan betapa sempurnanya Dia menciptakan kita. Maka dengan begitu, kata hanya akan menghasilkan kinerja terbaik melalui cara kerja yang paling baik.
 
5.      Jadilah sumber energy bagi lingkungan.  Bayangkan jika kilang minyak itu libur selama satu minggu saja. Anggap saja selama seminggu itu tidak ada supply bahan bakar untuk menunjang kehidupan kita. Semua kendaraan berhenti. Pesawat tak dapat terbang. Semua pabrik tidak berproduksi. Rumah kita gelap gulita. Kompor didapur kita tidak menyala. Apa jadinya kita? Jarang kita sadari bahwa minyak yang mereka hasilkan di kilang telah memberi energy kepada ratusan juta umat manusia. Maka bisa kita bayangkan betapa besarnya pahala bagi mereka yang bekerja dengan ikhlas untuk melayani sesama. Kita, mungkin tidak menghasilkan produk yang sedemikian berdampaknya seperti minyak. Tetapi, kita juga tahu bahwa energy itu tidak hanya berupa minyak atau bahan bakar fisik. Energy juga bisa berupa dorongan dan semangat untuk kebaikan hidup orang lain. Maka kita pun bisa meniru dengan cara menjadikan diri kita sebagai sumber energy bagi orang lain. Caranya? Banyak dan sederhana. Jadilah pemberi semangat bagi orang lain. Ucapkanlah kata-kata yang baik pada mereka. Perlakukanlah mereka dengan baik. Sehingga ketika berada bersama Anda; mereka merasa nyaman dan terdorong untuk melakukan yang terbaik. Ada pelajaran menarik dalam perbincangan saya dengan Pak GM Pertamina Dumai tentang kepemimpinan. Beliau mengatakan; “setelah saya pelajari, ternyata kepemimpinan itu adalah tentang mengajak orang-orang untuk berbuat lebih baik….” Dengan prinsip itu, beliau menjadi sumber energy bagi orang-orang disekitarnya. Bisakah kita mencontohnya?
 
Beruntunglah orang-orang yang dalam hidupnya mampu menghasilkan buah karya yang berguna bagi banyak orang. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain pasti akan beroleh ganjaran yang sepadan. Namun, guru kehidupan saya mengingatkan bahwa untuk mendapatkan ganjaran itu ada syaratnya. Sederhana syarat itu. Tetapi banyak orang yang tak mampu memenuhinya. Apakah syarat itu? Kata beliau; ganjaran disisi Tuhan hanya diperuntukkan bagi mereka yang mengharapkannya. Bagi yang tidak mengharapkan ganjaran itu – mengapa Tuhan memaksakan memberikannya? Maka saat bekerja; harapkanlah imbalan yang pantas untuk kehidupan di dunia. Namun, berharaplah lebih banyak kepada Tuhan agar Dia memberi kita ganjaran yang paling baik. Dengan begitu, malu kita jika tidak bekerja dengan baik. Karena kita berharap ganjaran yang terbaik. Dari Sang Pemberi Pahala yang terbaik.
 
Mari Berbagi Semangat!
 
DEKA - Dadang Kadarusman 21 Desember 2011
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Sedang dicetak di penerbit)