Senin, 05 Maret 2012

Cinta Jarak Jauh




Cinta jarak jauh memang sekarang baru tren karena si doi biasanya di tugaskan atau sedang belajar di kota lain. Dalam cinta jarak jauh memang kesetiaan pasangan sangat di uji. Dan walaupun jarang ketemu masih bisa mesra khan.. :)

Bagi para pembaca yang mengalami cinta jarak jauh jangan takut. Disini saya akan share tentang tips nya agar para pembaca yang LDR dapat langgeng sampai pernikahan nantinya. Berikut Tips Cinta Dan Pacaran Jarak Jauh Ala artikelpernikahan.com yg saya kumpulkan dari berbagai sumber di internet :

1. Jujur
Jujurlah pada kekasih anda apapun yang anda lakukan disaat tidak bersama cewek anda, jangan pernah anda berbohong, karena berbohong sagat tidak disenangi orang banyak apalagi yang dibohongi cewek anda sendiri.

2. Komunikasi
Zaman sekarang semuanya sudah serba mudah. Walau beda benua banyak alternatif komunikasi yang bisa ditempuh. Selain telepon, dengan kecanggihan internet ngobrol lewat chatting bisa dilakukan. Mau kirim foto, sampai video semuanya serba mungkin. Apalagi biayanya juga jauh lebih murah. Dan sekarang Zamannya Facebook Dan Tweeter.

Tak ada lagi alasan untuk tak berkomunikasi. Ada keraguan, kecurigaan, atau perasaan lainnya, utarakan langsung pada sang kekasih. Jangan memendam dan menebak-nebak sendiri…..

Tentang frekuensinya, sesuaikan dengan kegiatan masing-masing. Jangan sampai mengganggu dan membuat si dia kesal.  Tapi disela-sela komunikasi elektronik, tak ada salahnya sekali-sekali diselingi dengan surat biasa lewat pos. Selain lebih personal, di surat biasa anda bisa membubuhkan wewangian yang sering anda gunakan sehingga menimbulkan perasaan nostalgia pada dirinya. Jika si dia rindu pada makanan rumah tak ada salahnya sekali-sekali mengirim masakan favorit dia. Tapi sebelum itu cek dulu dengan perusahaan pengiriman atau kantor pos tentang prosedur pengiriman makanan.

3. Terbuka
Terbukalah kepada kekasih anda dan jangan ada yang disembunyikan, karena dengan terbuka akan membuat hubungan anda dengan sang kekasih serasa tidak ada tembok penghalang.

4. Percaya dan Sabar
Ketika sudah berkomitmen untuk hubungan jarak jauh, kepercayaan pada pasangan sangat penting. Jika tak bisa percaya pada pasangan sebaiknya anda berpikir dua kali sebelum menjalani hubungan jarak jauh. Anda bisa lelah sendiri disiksa kecurigaan dan kecemburuan karena tak bisa selalu mengawasi sang kekasih. Jika ada perasaan curiga atau gelisah, langsung ungkapkan kepadanya. Jangan dipendam sendiri dan berkembang menjadi masalah.

Keadaan emosi memang sulit dikontrol. Kadang kesal sedikit bisa jadi masalah. Khusus untuk pasangan jarak jauh, kesabaran adalah aspek yang penting. Seperti dilansir lovearticle, emosi pasangan pada hubungan jarak jauh lebih mudah meledak. Padahal seharusnya pasangan tersebut sangat menghargai saat-saat ketika mereka bertelepon atau bertemu.

Karena itu, jika timbul masalah sebaiknya coba bersabar dan jangan langsung meledak. Ingat, pertemuan dan komunikasi yang cukup sulit sebaiknya diisi dengan hal-hal yang menyenangkan supaya hubungan lebih mesra.

Selalu akhiri pembicaraan dengan kata-kata yang manis.

5. Cemburu Buta
Hindari yang satu ini jika anda ingin hubungan anda langgeng dan awet, karena cemburu merupakan sifat yang sangat tidak disukai oleh semua orang.

6. Jenaka Joke Lucu
usahakan anda orang yang menyenangkan, apalagi disaat sedang ada pertengkaran, sikap lucu bisa meredam amarah sang pacar sebagi contoh anda bisa saja kirim foto anda berdua dengan gokil, bisa pake Aplikasi Edit Foto seperti Adobe Photoshop Cs3 Portable atau anda gandeng Foto Steven William dan Foto Justin Bieber bersanding dengan anda.atau berkirim video seperti Youtube Keong Racun dan diisi Lagu Dangdut Koplo
lucu.dll. 

7.Buat kejutan
Kejutan seringkali menjadi penyegar suatu hubungan. Untuk yang jarak jauh bisa memanfaatkan jasa pengiriman. Sesekali mengirim bunga bisa menjadi penawar rindu yang romantis. Jika memang ada waktu yang cukup untuk liburan kejutkan dia dengan datang ke kotanya. Tapi ingat juga kesibukannya, jangan terlalu banyak menuntut waktunya. Jika memungkinkan, cari tahu dulu jadwal dia pada hari itu. Kunjungan anda juga tak perlu lama-lama, yang penting perasaan rindu sudah terobati. 

8. Prediksi masa depan
Hubungan yang punya tujuan, pasti bikin anda dan pasangan lebih semangat menjalaninya. Jika memang sudah saatnya tak ada salahnya menguatkan komitmen. Setidaknya jangan menghindar jika membicarakan hal tersebut. Suatu hubungan terutama jarak jauh perlu ‘iming-iming’ yang membuat anda dan pasangan tetap kuat. Setidaknya ada sesuatu yang diharapkan dan dituju.

Pacaran Jarak jauh memang banyak kendala dan untung ruginya. Akan tetapi jika keadaan yg memaksakan kita begitu, Pacaran jarak jauh enjoy aja di lakukan. Semoga tips Pacaran Jarak Jauh di atas berguna.



Diambil dari

Kamis, 01 Maret 2012

Seratus Jam Mendidik Diri Sendiri




Catatan Kepala: This is my career, then I must take all the responsibilities of the development processes on my own.”

Sudah berapa lamakah Anda bekerja di perusahaan tempat Anda bekerja sekarang? Dari masa kerja itu, berapa jam-kah Anda mendapatkan pelatihan yang difasilitasi oleh perusahaan untuk mengembangkan potensi diri Anda? Sampai 100 jam dalam setahun? Setahu saya, sangat jarang sekali perusahaan yang menyediakan waktu hingga 100 jam pelatihan kepada karyawannya, kecuali pada tahun pertama rekrutmen. Apakah hal itu menunjukkan jika perusahaan kurang memberi perhatian kepada pengembangan bawahan? Tidak juga. Budget dan kemampuan perusahaan tidaklah tanpa batas. Sedangkan kapasitas diri kita ‘mungkin’ nyaris tidak terbatas. Maka menunggu perusahaan untuk selalu menyediakan kesempatan mengembangkan diri menjadi terlalu beresiko. Bukan berarti kita berhenti berharap. Tetapi, kitalah yang mesti lebih proaktif untuk mendidik diri sendiri. Minimal, 100 jam dalam setahun. Mungkinkah?

Saya memulai karir sebagai seorang salesman. Dan sejak awal, saya sudah gandrung dengan berbagai macam pelatihan. Suatu ketika, tanpa diduga saya bertemu dengan seorang top eksekutif sebuah perusahaan multinasional di acara training yang kami ikuti di luar negeri. “Berapa orang dari perusahaan Anda?” beliau bertanya. “Saya sendiri Pak,” jawab saya. “Dan saya tidak mewakili perusahaan tempat saya bekerja.” Beliau seolah tak percaya. Seorang karyawan, mengikuti pelatihan mahal di luar negeri dengan biaya sendiri. “Wah, kalau begitu sebentar lagi Anda pindah kerja ya?” Sekarang gantian saya yang bingung. “Iya dong, seharusnya perusahaan membayari Anda, kan kalau Anda nambah pinter perusahaan juga yang untung,” katanya. “Bapak betul,” saya bilang. “Namun, this is my career. Then I must take all the responsibilities of the development processes on my own….”. Jika kita yakin bahwa ini adalah karir kita, maka tidak selayaknya kita menggantungkan pengembangannya kepada pihak lain. Termasuk kepada perusahaan tempat kita bekerja. Kitalah yang paling bertanggungjawab terhadap baik dan buruknya. Berkembang atau menyurutnya. Pihak lain, tidak lebih dari pelengkap saja. Itu pertanda kita bertanggungjawab terhadap proses mendidik diri sendiri. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengambil tanggung jawab dalam mendidik diri sendiri, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™)berikut ini:  

1.      Menyisihkan pendapatan untuk mendidik diri sendiri. Perusahaan tempat Anda bekerja mungkin menyediakan budget khusus untuk membiayai beragam program pelatihan. Namun, mungkin tidak bisa memenuhi kebutuhan seluruh karyawannya untuk mendapatkan 100 jam proses pendidikan setiap tahunnya. Maka, ada baiknya jika Anda belajar menyisihkan sebagian dari pendapatan bulanan Anda untuk ditabung dan dialokasikan bagi proses pengembangan diri Anda sendiri secara mandiri. Selain terbatasnya budget perusahaan, hal ini juga penting untuk memastikan Anda memperoleh topik atau subyek pelatihan yang Anda benar-benar butuhkan. Mengapa? Karena boleh jadi, materi training yang disediakan dan dibiayai oleh perusahaan cenderung bersifat teknis saja. Padahal, hidup Anda melampaui hal-hal teknis. Sehingga Anda membutuhkan ilmu hidup, bukan sekedar keterampilan teknis. Tabungan yang Anda sisihkan itu, memungkinkan Anda untuk mengikuti topik atau subyek pelatihan yang Anda pilih sendiri.   

2.      Pilihlah pelatihan-pelatihan yang Anda butuhkan Pelatihan teknis, adalah wajib hukumnya. Entah Anda suka, atau tidak. Mebosankan, ataupun menyenangkan. Karena pelatihan itu menunjang langsung pelaksanaan pekerjaan Anda. Namun, untuk pelatihan non teknis; Anda tidak perlu asal telan begitu. Mulailah terlebih dahulu dengan mengidentifikasi ‘kebutuhan’ pribadi Anda. Sederhananya; Anda butuh mempelajari apa? Setelah itu, Anda boleh menentukan tingkat kedalamannya; apakah Anda ingin sekedar memahaminya saja. Atau sampai ke level terampil dalam aplikasi praktisnya. Untuk hal-hal yang berkorelasi langsung dengan kualitas kerja, sebaiknya program 100 jam mendidik diri Anda bisa menyentuh hingga level terampil melakukannya. Dari sana Anda bisa menentukan pelatihan mana yang harus Anda prioritaskan, mana yang menjadi tambahan, dan mana yang sama sekali tidak perlu dipertimbangkan. Siapa yang mengetahui secara pasti kebutuhan itu? Anda sendiri. Bukan atasan atau orang HRD. Sekalipun demikian, saya sangat menyarankan agar pelatihan dalam bidang ‘kepemimpinan’ masuk dalam daftar pelatihan prioritas Anda. Mengapa? Karena tidak seorang pun bisa sukses dalam karirnya, tanpa kemampuan memimpin yang mumpuni. So, pilihlah pelatihan-pelatihan yang Anda butuhkan saja. Dan pastikan pelatihan tentang kepemimpinan termasuk didalamnya. Khususnya pelatihan kepemimpinan yang memberikan ilmu dan insight-insight baru, serta relevan dengan tantangan kepemimpinan aktual. Bukan sekedar mengajarkan pakem-pakem baku belaka.

3.      Pilihlah orang yang tepat untuk dijadikan tempat berguru. Setiap guru, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada yang jago story telling. Ada yang piawai berkomunikasi interaktif. Ada yang berbicara menggebu-gebu. Ada pula yang tutur katanya halus, perlahan, dan bahkan nyaris seperti diam. Itu soal gaya bicara. Anda boleh pilih yang mana saja Anda suka. Namun ada satu kriteria mutlak yang harus Anda temukan pada orang yang akan Anda jadikan tempat berguru. Yaitu; dia harus benar-benar orang yang ahli dibidangnya. Gaya berbicara, teknik mendidik, metode pembelajaran; bisa beragam macam. Terserah saja. Seperti halnya dunia persilatan. Ada guru yang sedemikian santun dan lembutnya seperti para master di kuil Shaolin. Ada pula guru yang nyeleneh bin edhian wal gemblung seperti halnya Tante Sinto Gendheng. Selama tetap menjaga nilai-nilai kesusilaan, maka semua perbedaan itu tidak usah dipermasalahkan. Dan sebagai murid, sebaiknya Anda ikuti saja teknik yang diterapkan oleh guru atau trainer Anda. Namun soal syarat keahlian ini; Anda tidak boleh bertoleransi. Mengapa? Karena berguru kepada orang yang asal bisa bicara saja – tanpa ilmu dan keahlian yang mumpuni – hanya akan membuang waktu dan uang Anda secara sia-sia. Mungkin Anda hanya dapat hebohnya saja. Atau, sekedar puas berhaha hihi saja. Tapi kalau tak ada ilmu yang Anda bawa pulang? Program 100 jam mendidik diri Anda bisa berantakan. Maka kenalilah. Telitilah. Selidikilah ‘kandidat-kandidat’ yang layak untuk Anda jadikan guru. Andalah bossnya. Dan Andalah. Yang memilihnya.

4.      Izinkan atasan memahami minat belajar Anda.  Mantan atasan saya tahu persis jika saya punya minat yang tinggi dalam proses belajar. Pada awalnya, tidak mudah untuk mendapatkan dukungan khususnya ketika budaya belajar belum tumbuh dengan subur. Namun seiring berjalannya waktu, segala sesuatunya berkembang seolah semua hal memberikan dukungan. Saya tidak mudah mendapatkan cuti untuk liburan, misalnya. Tapi, jika permintaan cuti itu digunakan untuk proses mendidik diri sendiri, beda. Atasan saya juga tahu bahwa reward berupa proses pembelajaran jauh lebih berdampak bagi saya daripada imbalan berupa uang setiap kali beliau memberi penugasan berat. Kadang atasan saya yang mengikuti pelatihan tertentu di luar negeri pulang dengan oleh-oleh modul khusus untuk saya. Kadang membelikan buku bermutu. Bahkan tak jarang beliau memberikan persetujuan pada proposal untuk mengikuti sebuah training non teknis yang saya ajukan. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan jika kita bersedia untuk mengizinkan atasan memahami minat belajar kita. Khususnya, ketika kita bisa menunjukkan kepada atasan bahwa; ilmu yang kita pelajari itu dibawa pulang dan dipraktekkan dalam menjalani pekerjaan kita sehari-hari. Jika Anda bisa menunjukkan itu kepada atasan Anda, maka atasan Anda akan melihat bahwa menginvestasikan sejumlah dana untuk mengembangkan diri Anda, akan benar-benar memberi dampak positif bagi perkembangan dan pencapaian perusahaan. Selanjutnya? Silakan Anda coba sendiri.

5.      Menyingkirkan gengsi dari dalam hatiKetika jabatan kita sudah tinggi – entah kenapa – suka ada perasaan gengsi untuk belajar lagi. Rasanya gimanaaaa gitu kalau duduk di kelas seperti orang-orang kemarin sore itu. Padahal, dalam hati sih nyadar betul jika ada ilmu yang kepingiiiin sekali kita dalami. Anda tidak merasa begitu? Baguslah itu. Kita ini adalah mahluk pembelajar. Long life learning, katanya kan. Saya pribadi melihat justru proses belajar itu sangat efektif terjadi pada orang-orang yang tetap rendah hati. Bahkan sekalipun ilmu mereka sudah sangat tinggi. Ketika minat belajar sepanjang hayat ini dikombinasikan dengan pemilihan subyek yang kita butuhkan pada poin-2 dan kecanggihan dalam pemilihan orang yang tepat untuk kita jadikan sebagai tempat untuk beguru pada poin-3, maka sekarang kita memiliki peluang untuk benar-benar mampu mengoptimalkan proses mendidik diri yang kita canangkan itu. Sehingga sekarang kita mempunyai the golden rule yang baru, yaitu: menyingkirikan gengsi – memilih subyek yang tepat – memilih orang yang tepat untuk berguru. Dengan menerapkan golden rule itu, program 100 jam mendidik diri kita tentu akan semakin besar maknanya terhadap proses eksplorasi dan pemanfaatan potensi diri yang kita miliki. So, mari singkirkan gengsi dari dalam hati. Supaya kita, tetap memiliki peluang untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu yang tiada henti-hentinya berdatangan.

Ibu saya. Seorang perempuan sederhana. Namun nasihatnya melampaui fatwa konsultan-konsultan pengembangan diri kelas dunia. Ketika pertama kali saya harus meninggalkan rumah karena lokasi sekolah berada jauh dari kampung kami, Ibu saya menasihatkan;”Dadang, jangan pernah lupa sholat. Dan jangan pernah berhenti belajar.” Bagi seorang muslim, sholat adalah penyambung tali ruhani dengan Ilahi. Dan Ibu saya, menempatkan ‘proses belajar’ di posisi kedua setelah nasihatnya tentang sholat. Ibu saya faham, bahwa Tuhan telah menciptakan kita dengan sedemikian istimewanya. Dengan sedemikian tinggi potensinya. Dengan sedemikian besar kapasitasnya. Namun, kita sering lupa untuk mengeksplorasi dan menggalinya hingga berhasil mengaktualisasikannya. Belajar adalah proses awal agar mampu mendayagunakan seluruh potensi itu. Maka berhentilah untuk menyerahkan seluruh proses mendidik diri kepada perusahaan tempat kita bekerja. Sudah saatnya untuk mengambil sebagian besar dari tanggungjawab itu. Sehingga, minimal kita bisa mendidik diri sendiri selama 100 jam setahun. Biarlah fasilitas dari perusahaan diposisikan sebagai pelengkapnya saja. Sehingga ada atau tidaknya sokongan perusahaan terhadap proses pengembangan diri Anda; tidak akan pernah menyurutkan usaha Anda. Untuk. Mengembangkan diri. Yuk marrreeee….

Catatan Kaki:
Setiap orang memiliki 8,760 jam per tahun. Bisakah kita menyisihkan 100 jam untuk mendidik diri sendiri?



Diambil dari milis Wordsmartcenter
- Dadang Kadarusman -

Rabu, 29 Februari 2012

Tetap Baik Dalam Lingkungan Buruk




Catatan Kepala: ”Sulit sekali untuk menjadi pribadi yang baik jika kita tinggal di lingkungan yang buruk. Namun, jika keadaan tidak memungkinkan untuk keluar dari lingkungan itu, kita masih memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang baik.”
 
Menyingkir merupakan salah satu solusi ampuh untuk menghindari pengaruh buruk lingkungan. Sayangnya, hal itu tidak selalu praktis untuk dilakukan. Jika rumah kita berada di lingkungan yang kurang harmonis, misalnya. Pindah rumah tidaklah selalu murah. Jika suasana kerja dikantor kita tidak lagi kondusif, pindah kerja juga bukan perkara mudah. Mungkinkah kita bisa tetap memiliki sikap dan perilaku baik jika tetap tinggal di lingkungan sedemikian buruk?  
 
Inilah pertanyaan yang sejak lama mampir di benak saya; “Kenapa, ikan laut tidak ikut menjadi asin?” Meski sepanjang hidupnya ikan itu berendam dalam air asin, namun dagingnya tetap saja tawar. Mungkin ini isyarat yang menunjukkan bahwa – jika mau – kita bisa tetap menjadi pribadi yang baik, meskipun orang-orang disekitar kita pada melakukan keburukan secara berjamaah. Kita, kadang takut tersingkir dari lingkungan jika tidak ikut-ikutan perilaku kebanyakan orang. Jika tidak ‘menyesuaikan’ diri dengan praktek-praktek tak pantas atasan, kita takut karir akan mentok. Jika tidak meniru perilaku tak patut teman-teman, kita akan disisihkan. Hari ini, kita diingatkan kembali bahwa tidak peduli seasin apapun air laut. Seberapa lamapun ikan berendam didalamnya. Daging ikan itu tidak ikut menjadi asin. Dari pelajaran ini kita tahu bahwa; tetap menjadi pribadi yang baik dalam lingkungan yang buruk itu bukanlah sebuah kemustahilan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjaga kebaikan pribadi didalam lingkungan yang buruk, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™),berikut ini:  
 
1.      Dari asalnya asing kembali menjadi asing. Guru kehidupan saya mengajarkan bahwa sebelum para Nabi diutus, manusia hidup dalam masa kegelapan. Dimasa itu, kebaikan seolah menjadi barang asing. Itulah sebabnya mengapa ketika para Nabi datang membawa pencerahan; mereka dimusuhi. Ajaran dan ajakannya dinilai tidak relevan dengan keadaan. Dengan kegigihan para utusan itu kemudian manusia berjalan menuju cahaya. Dibawah bimbingan pribadi-pribadi agung itu orang-orang mulai beralih kepada kebaikan, hingga akhirnya keburukan tersisih sedangkan kebaikan menjadi sebuah kebiasaan. Ketika para Nabi dipanggil pulang, nilai-nilai kebaikan mulai terkikis lagi oleh keburukan yang menjanjikan kemudahan dan gelimang kenikmatan. Sampai akhirnya kebaikan yang dahulu asing itu kembali menjadi asing. Maka tidak perlu terlampau heran jika menyaksikan kompakkan sekelompok orang dalam mempertahankan keburukan. Bahkan tidak malu lagi mempertontonkan kepiawaiannya dalam melakukan keburukan itu. Karena, sudah menjadi fitrah bahwa kebaikan itu akan kembali menjadi barang asing. Namun, ada kabar baik bagi mereka yang masih tetap memiliki nilai-nilai kebaikan didalam dirinya. Karena dia langka. Maka nilainya sangat berharga.
 
2.      Memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Salah satu titik lemah kita adalah keadaan dimana kita merasa tidak berdaya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa sehingga apa maunya lingkungan ya terpaksa diikuti saja. Penyebab utama keadaan ini adalah karena kita tidak memiliki kemampuan yang bisa diandalkan untuk meraih kecukupan dalam menjalani hidup. Beda sekali dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Mereka bisa membawa diri dengan sebaik-baiknya sehingga meski lingkungan buruk menuntutnya melakukan sesuatu, mereka masih bisa menjaga kemandirian. Pengaruh buruk lingkungan tidak bisa menjamahnya. Karena dengan kemampuannya yang bisa diandalkan, mereka tidak menggantungkan diri pada lingkungan yang buruk itu. Mungkin sudah saatnya kita belajar memampukan diri sendiri. Semakin kita sadar belum memiliki kemampuan itu, semakin kita terdorong untuk memulai membangunnya saat ini juga. Mungkin hari ini kita masih bergantung pada lingkungan. Namun, besok lusa, mungkin kita sudah bisa lebih berdaya. Beberapa tahun lagi, Insya Allah kita bisa membebaskan diri dari jerat pengaruh buruk lingkungan. Karena beberapa tahun lagi, mungkin kita sudah memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Lama nian? Tidak masalah. Itu jauh lebih baik daripada pasrah saja, mengikuti arus yang kita tahu tidak betul itu. Yuk, terus melatih diri. Agar perlahan tapi pasti, kita bisa mempersiapkan esok yang lebih baik. Dan lebih berkah lagi.
 
3.      Membuang sifat serakah. Kita ini tidak miskin-miskin amat lho. Semua yang kita dapat cukup untuk menjalani hidup. Sayangnya, kita tetap saja merasa tidak cukup. Kita suka bingung kala membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Sehingga kita sering menginginkan segala sesuatu yang tidak kita butuhkan. Bahkan ketika semua kebutuhan hidup sudah terpenuhi, kita masih saja mengumbar keinginan terhadap ini dan itu. Bukan soal keinginannya yang salah, tetapi menyelaraskan keinginan itu dengan kemampuan aktual kita. Penghasilan kita – misalnya – cukup untuk menempuh hidup yang layak dan bermartabat. Namun gaya hidup kita, melampaui kemampuan sebenarnya. Makanya kita sering kepepet. Sedangkan kata ‘kepepet’ memiliki sahabat karib bernama ‘terpaksa’. Jika sudah ‘kepepet’, tiba-tiba saja kita berada pada situasi yang memungkinkan kita melakukan sesuatu karena  ‘terpaksa’ itu. Melihat bagaimana cara orang lain mengatasi keterpepetan itu, akhirnya kita terpaksa mengikuti mereka. Padahal, selama gigih berusaha dan berikhtiar; maka hidup kita sudah dijamin. Tuhan yang menjanjikan itu, seperti tertera dalam kitab suciNya. Namun, tidak ada ikhtiar yang bisa memenuhi tembolok yang dibuat dari kantung keserakahan. Maka agar bisa terhindar dari pengaruh buruk lingkungan, kita perlu membuang sifat-sifat serakah yang ada didalam diri kita sendiri.
 
4.      Mengajak anggota keluarga untuk tetap baik. Sungguh tidak mudah untuk menjaga agar orang-orang terdekat kita tetap baik ditengah godaan lingkungan yang buruk. Khususnya terkait godaan hedonisme. Pameran barang mewah. Pertunjukan pelesir kesana kemari. Parade gadget keren dan berganti-ganti. Oh. Seperti serangan bertubi-tubi. Kita sendiri, mungkin bisa menangkisnya karena kita tahu persis sampai sejauh mana kemampuan aktual kita. Tetapi, anggota keluarga kita – istri – suami – anak-anak – sanggupkah mereka untuk kuat seperti kita? Pantas jika kitab suci mewanti-wanti; “Jagalah dirimu dan keluargamu….” Benar firman itu adanya. Buktinya, cukup banyak kan orang hebat yang jatuh karena keluarganya? Bahkan penasihat kehidupan rumah tangga pun belum tentu memiliki resep yang ampuh. Karena tak jarang mereka yang terampil menasihati orang lain pun tidak sanggup menolong dirinya sendiri. Maka kita hanya bisa meraba dan mencoba berbagai cara. Khususnya, cara-cara yang tertera dalam kitab yang dibuat melalui wahyu Ilahi. Semoga.
 
5.      Meyakini adanya hari perhitunganHanya dalam film-film kebaikan selalu memenangkan pertempuran melawan keburukan. Dalam dunia nyata, keburukan sering lebih terorganisir, lebih kompak, dan lebih perkasa. Maka dalam dunia nyata, kita sering melihat kebaikan terkapar nyaris sekarat. Sedangkan keburukan berpesta pora diatas singgasana kemegahan berkilau gemerlap. Itulah dunia nyata. Maka ketika memilih untuk menjadi pribadi yang baik, mungkin kita akan berhadapan dengan kenyataan bahwa kebaikan-kebaikan yang kita praktekkan. Maupun nilai-nilai positif yang kita tebarkan. Seolah dikepung oleh kekalahan atas riuh rendahnya keindahan melakukan keburukan. Nikmat dan lezatnya kemunkaran. Nyaman dan menyenangkannya kebatilan. Maka kebaikan pun kalah telak. Itulah dunia nyata. Namun, sungguh beruntung orang-orang yang meyakini adanya hari perhitungan. Karena keyakinan itu memberi kita penghiburan bahwa setiap keburukan yang dilakukan oleh siapapun ada hitung-hitungannya. Demikian pula dengan setiap kebaikan yang ada catatan dan takarannya masing-masing. Maka selama meyakini hari perhitungan itu, hati kita menjadi tenteram. Dan kita tahu, bahwa kebaikan yang kita sedang upayakan ini; tidak membawa kita ke tempat manapun selain pahala yang kelak akan kita peroleh tanpa akhir.
 
Kantor Anda dipenuhi oleh orang-orang yang memamerkan cara-cara buruk? Lingkungan tempat tinggal Anda didominasi oleh perilaku-perilaku kotor? Tidak usah mengeluhkan itu. Cukuplah berfokus kepada 1 hal ini: meniru bagaimana caranya ikan bisa tetap tawar didalam air laut. Tahukah Anda mengapa ikan itu tetap tawar? Tepat sekali. Dia hidup. Maka selama ikan itu hidup, dia akan terus berjuang agar garam diair laut tidak mencemari tubuhnya. Bagaimana dengan kita? Yuk kita meniru sang ikan; selama kita hidup, kita akan terus berjuang agar pengaruh buruk lingkungan tidak mencemari diri kita. Karena selama ikan itu hidup, dia bisa memfungsikan sel khusus untuk menyaring garam. Sel itu bernama ionocyte. Karena selama kita hidup, kita bisa memfungsikan organ khusus yang menyaring keburukan. Organ itu. Bernama. Kalbu. Semoga.   

Catatan Kaki:
Ketika keburukan terlihat dominan didalam lingkungan yang kita tinggali, kita memiliki 2 pilihan; mengikutinya. Atau menjadikannya penguat tekad untuk tetap menjadi baik.


Diambil dari milis Wordsmartcenter
- Dadang Kadarusman -

Senin, 27 Februari 2012

Apa Yang Menyebabkan Karir Seseorang Cemerlang?





Catatan Kepala: ”Ditengah bejibunnya orang yang pusing dengan bayaran rendah, ada sejumlah orang yang terus membangun kecemerlangan karirnya sehingga tidak lagi pusing soal angka yang tertera dalam slip gajinya.”

Kita tidak bisa mengetahui masa depan secara pasti. Tetapi urusan karir, dari dulu saya percaya bahwa kita bisa memperkirakan masa depan. Misalnya, kita bisa melihat orang-orang yang bekerja di sekitar kita. Dan kita, bisa memperkirakan siapa yang akan menjadi manager lalu terus menanjak menjadi senior manager, direktur bahkan presiden direktur. Kita juga bisa memperkirakan siapa yang akan mentok, atau yang hanya akan begitu-begitu saja sepanjang karirnya. Saya pernah melakukan uji coba sendiri, dengan mengamati orang-orang yang bekerja sebagai profesional. Meski tidak 100% akurat, tetapi boleh dibilang ‘hampir 100%” perkiraan saya benar. Tidak butuh menjadi paranormal untuk ‘meramalkan’ masa depan karir seseorang. Cukup melihat sikap, perilaku, dan tindakannya selama bekerja sehari-hari, maka kita bisa ‘meramalkan’ masa depan karirnya. Anda pun bisa menjadi peramal karir. Minimal meramalkan masa depan karir Anda sendiri. Mau?

Kemarin siang sebelum meeting, tanpa diduga saya bertemu dengan seorang sahabat. Hanya sebentar sekali karena kami sedang sama-sama dikejar jadwal masing-masing. Walhasil, hanya sempat bertukar kartu nama. Bahagia saya membaca titelnya sebagai seorang pemimpin puncak sebuah perusahaan di pusat bisnis mentereng kelas atas. Saya mengenal sahabat saya itu sejak masuk kampus dulu. Meskipun sudah jarang bertemu, saya memperhatikan beliau dari jauh. Membaca perkembangannya di jejaring para profesional. Hingga kemarin, saya bertemu beliau sekali lagi. Bagi saya, beliau adalah salah seorang model profesional yang dengan tekun membangun karirnya setapak demi setapak sampai berada di puncak. Ditengah bejibunnya orang yang pusing dengan bayaran rendah, ada sejumlah orang yang terus membangun kecemerlangan karirnya sehingga tidak lagi pusing soal angka yang tertera dalam slip gajinya. Ini adalah pertanda bahwa mereka mengetahui cara yang kebanyakan orang lain tidak mengetahuinya. Kita butuh berguru atau meniru orang-orang seperti itu. Khususnya ditengah hiruk pikuk protes dan kekesalam begitu banyak karyawan soal bayaran atau jenjang karirnya yang tidak kunjung memperlihatkan perbaikan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar dari mereka yang berhasil membangun karir cemerlangnya, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsipNatural Intelligence (NatIn™)berikut ini:  

1.      Memiliki visi terhadap masa depan karirnya sendiri. Bukan hanya perusahaan yang membutuhkan visi. Kita pribadi pun demikian. Mengapa? Karena visilah yang bisa memberi kita kekuatan untuk terus melangkah maju ketika tiba masa-masa sulit atau jebakan berbagai godaan. Kehidupan kerja kita, tidak selamanya mudah. Namun, setiap kali berpegang teguh pada visi; semua cobaan itu menjadi semakin kecil. Selama bekerja, kita juga dihadapkan pada banyak godaan. Banyak sudah orang yang kepeleset. Namun, selama kita mengingat visi pribadi kita, maka kita akan sanggup berkelit agar terbebas dari jerat yang bisa menodai perjalanan karir kita. Bukankah banyak orang cemerlang yang berguguran hanya karena ketahuan melakukan satu kesalahan fatal dalam karirnya? Bangunlah visi pribadi yang kokoh untuk masa depan karir Anda. Maka Insya Allah, Anda bisa lebih sanggup untuk menghadapi beratnya cobaan, dan mengatasi semenggiurkan apapun godaan.

2.      Terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Saya memperhatikan orang-orang yang saat ini menduduki posisi-posisi penting dalam karirnya. Menelisik ke belakang sewaktu mereka baru memulai karir itu sebagai fresh graduate alias belum berpengalaman apapun. Ternyata, mereka tidak beda banyak dengan kebanyakan orang lainnya. Sama grogi dan culunnya seperti kita. Ilmunya juga tidak terlampau jauh dari kita. Tetapi, mereka melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang pada umumnya, yaitu; terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Begitu banyak orang yang merasa cukup dengan semua pengetahuan dan keterampilan kerja yang dimilikinya. Sehingga dengan semua kehebatannya itu, mereka merasa sudah memuncaki kualitas profesionalnya. Tak jarang mereka mempermasalahkan; kenapa gue yang hebat ini dibayar segini doang!?. Beda banget dengan orang-orang yang patut menjadi model yang saya sebutkan tadi. Meskipun ilmunya semakin tinggi, mereka tidak pernah merasa sudah tinggi. Mereka teruuuus saja meningkatkan kualitas profesionalismenya. Makanya, orang yang merasa hebat dan canggih sering ketinggalan oleh mereka yang terus mengasah diri. Karena mereka yang terus belajar dan meningkatkan diri menapaki tingkatan yang semakin tinggi dan tidak tertandingi.

3.      Menbuat kinerja tinggi dengan optimalisasi diri. Setiap karyawan dipekerjakan untuk mengkontribusikan kinerja dalam kadar tertentu. Tertera dalam job descriptonnya, dan dipaparkan secara detail melalui strategic objective tahunannya. Banyak orang yang kinerjanya bagus, memang. Namun kebanyakan orang mendedikasikan  kinerja tinggi itu hanya untuk uang semata. Maka ketika imbalan yang diterima mereka nilai tidak sepadan dengan kontribusi yang mereka berikan kepada perusahaan, mereka kemudian ‘mengerem’ kinerjanya hingga menjadi biasa-biasa saja. Maka kinerja tingginya pun segera berakhir. Para model profesional itu berbeda. Mereka tidak memusingkan soal imbalan sekarang. Karena mereka percaya bahwa ada hal yang lebih penting dari sekedar imbalan, yaitu; aktualiasi dari kemampuan dirinya. Mereka terus saja fokus kepada usaha-usaha mengoptimalkan kapasitas diri. Makanya, tidak heran jika kinerja tingginya tidak terpengaruh oleh faktor luar. Dalam jangka pendek, mungkin tidak ada bedanya imbalan yang mereka terima dengan apa yang didapatkan oleh orang lain yang bekerja biasa-biasa saja. Namun dalam jangka panjang, cepat atau lambat mereka akan memperoleh perbedaan secara signifikan.

4.      Membangun reputasi 360 derajat. Karir seseorang tidak bisa dibangun hanya dengan reputasi baik dihadapan orang-orang terntentu. Mungkin memang ada orang yang karirnya menanjak hanya karena reputasi baik didepan atasannya belaka. Namun tetap saja, karir yang dibangun dengan reputasi 360 derajat jauh lebih berbobot dan lebih lestari. Apa artinya reputasi 360 derajat itu? Yaitu reputasi tinggi yang kita bangun dihadapan semua orang yang berkaitan dengan karir kita. Bukan hanya bagus dihadapan atasan, melainkan juga bagus dimata kolega, bawahan, departemen lain, pelanggan, bahkan pesaing-pesaing kita. Pendek kata, reputasi yang dibangun dihadapan orang-orang sekeliling kita. Orang yang berhasil membangun reputasi 360 derajat ini pada saatnya kelak akan berhasil memanen buahnya berupa kepercayaan dan kesempatan yang tidak dipertanyakan keabsahannya. Karena semua orang tahu, bahwa dia memang layak mendapatkannya. Jika belum terasa manfaatnya, konsisten dan bersabar saja.

5.      Tetap rendah hati meski memiliki posisi tinggiDiantara orang-orang yang berhasil membangun karir cemerlangnya, memang ada banyak yang sombong, angkuh dan lupa diri. Namun, sejauh yang saya ketahui sebagian besar diantaranya justru adalah mereka yang tetap rendah hati. Mereka tidak merendahkan orang lain hanya karena posisinya lebih tinggi. Justru mereka memuliakan orang lain dengan jabatan tinggi yang disandangnya. Lagi pula, jika posisi kita sudah tinggi; mengapa kita harus bersikap tinggi hati, kan? Karena tanpa diminta pun orang lain akan menghormati kita. Hanya saja, apakah penghormatan orang lain itu tulus atau tidak; sangat ditentukan oleh cara kita membawakan diri. Kita mungkin menaruh hormat kepada orang berposisi tinggi namun tinggi hati. Namun, kita kan tidak tulus menghormati mereka. Beda sekali dengan rasa hormat yang kita berikan kepada orang yang berposisi tinggi namun tetap rendah hati. Mereka benar-benar layak mendapatkan penghormatan setulus hati. Itulah sebabnya, mengapa hati kecil kita sering berharap orang tinggi hati segera diganti oleh orang-orang yang berkualitas tinggi namun tetap rendah hati.

Orang bilang, sulit sekali membangun karir di zaman yang penuh persaingan ini. Anggapan itu hanya cocok bagi orang-orang yang tidak mengetahui caranya. Sedangkan bagi orang-orang berilmu, kenaikan jenjang karir itu seperti naik tangga sebuah gedung yang indah. Perlahan tapi pasti. Setapak, demi setapak. Hingga akhirnya bisa sampai ke puncak. Bahkan, diantara mereka ada yang tahu jalur cepatnya. Maka seperti naik lift saja, mereka bisa menuju kesana dengan cara-cara yang mengagumkan. Jika kita masih merasa sulit membangun karir ini. Atau tergoda untuk menyalahkan boss dan lingkungan kerja yang tidak mendukung, mungkin sudah saatnya untuk belajar kepada mereka yang mengetahui bagaimana cara mengatasinya. Carilah orang-orang seperti itu.

Catatan Kaki:
Bukan tidak mungkin untuk menapaki jejang karir yang lebih tinggi. Barangkali kita tidak tidak tahu caranya saja. Atau tidak bersungguh-sungguh menapaki jalannya.

Diambil dari milis Wordsmartcenter- Dadang Kadarusman

Jumat, 24 Februari 2012

Momen Yang Bikin Cowo' Kehabisan Kata - kata




Ternyata tidak semua hal bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cowok bukanlah makhluk verbal seperti cewek yang kuat dalam indera pendengaran dan dalam berbicara. Sebaliknya cowok adalah makhluk visual yang lebih senang melihat. Terkadang cowok juga bisa kehabisan kata-katanya. Mengapa

Dalam beberapa hal, cowok cenderung memilih bungkam dan tidak memberi komentar, meski mungkin hati mereka sedang menjerit tak karuan saat itu. Lalu dalam hal apa saja cowok memilih bungkam dan membisu seribu bahasa? Berikut jawabannya…

1. Saat Cemburu
Reaksi cowok saat cemburu memang bermacam-macam ada yang langsung marah kepada pasangannya dan ada yang memilih bungkam atau ngambek. Cowok jarang bilang terus terang kalau dirinya sedang cemburu. Bahkan mereka kerap kali mengelak saat ditanya apakah ia cemburu atau tidak. Mangkanya cowok lebih memilih bungkam saat cemburu.

2. Saat penampilan Anda wow
Cowok cenderung akan bungkam dan takjub saat melihat penampilan Anda yang begitu cantik saat mau kencan. Cowok akan terus terkagum dan tidak mampu mengatakan apapun kepada Anda. Dia akan terus memandangi Anda tanpa memberikan kata-kata.

3. Saat Jatuh Cinta pada Anda
Ada cowok yang mudah mengumbar kata cinta pada setiap cewek, tapi ada juga cowok yang sulit mengakui dan mengatakan kalau ia sebenarnya sedang jatuh cinta pada Anda. Saking cintanya, terkadang cowok itu tidak bisa berkata apa-apa saat bersama kamu. Ternyata, ada beberapa cowok yang tidak mampu mengatakan kalau dirinya cinta pada Anda. Jangankan berkata, berdekatan dengan Anda juga dia tidak bisa karena jatungnya selalu berdebar kencang saat ada di samping Anda.

4. Saat Anda Memujinya
Cowok juga bisa tersipu malu saat mendapat pujian. Meski hatinya berteriak kegirangan, namun ia akan tetap berusaha menyembunyikan rasa senangnya itu. Entah dengan cara mengalihkan perhatian Anda dengan hal yang lain atau dengan tersenyum tanpa kata-kata yang keluar.

5. Saat Anda marah-marah tidak jelas
Cowok jadi merasa tidak bisa berkutik saat melihat Anda marah-marah tidak jelas. Mungkin dia akan bertanya pada Anda mengapa Anda marah. Namun, ketika jawaban yang Anda berikan padanya kurang memuaskan, maka ia akan diam dan menarik diri sampai Anda benar-benar tenang.

Selasa, 31 Januari 2012

Mengapa Seseorang Layak Disebut Leader?


Catatan Kepala: ”Jika orang yang disebut sebagai leader itu hanya menempatkan bawahannya pada posisi sebagai pelaksana pekerjaan rutin, maka orang itu belum berhasil menjadi ’leader’.”
 
Judul artikel ini tidak dituangkan untuk menggugat atasan yang dinilai kurang kompeten. Saya menggunakannya untuk mengajak Anda untuk melihat kedalam, apakah didalam diri kita memang sudah ada tanda-tanda jika kita ini memiliki kualitas pribadi yang memadai? Kualitas yang memadai untuk apa? Untuk menjadikan diri kita layak disebut sebagai seorang leader. Mengapa? Karena kita sering terlalu sibut mengejar titel jabatan, bukan mengejar kompetensi. Setelah mendapatkan jabatan itu pun kita sering terlampau sibuk untuk menjaga ‘citra’ sebagai pemimpin yang disegani atau dipatuhi. Dan sering lupa, bahwa nilai diri kita sebagai pemimpin hanya terletak kepada apa yang bisa kita lakukan saat menjalankan fungsi kepemimpinan itu. Bukan pada titel mentereng kita. Jadi, mengapa seseorang layak disebut pemimpin?
 
Beberapa waktu lalu, saya menyaksikan sebuah forum yang dihadiri oleh para pemipin. Ditengah hujan kritik atas nihilnya dampak kepemimpinan organisasi, ada sebuah kalimat terlontar:”Kalaupun para pemimpinnya diganti, apakah kebijakan dan pola kerja akan berubah hingga keadaan menjadi lebih baik?” Pertanyaan itu keras. Provokatif. Dan berpotensi menyinggung harga diri banyak pemimpin yang hadir. Namun, tak seorang pun yang berani atau bersedia menjawabnya. Bisakah Anda memberikan jawaban akurat? Faktanya, banyak sekali proses pergantian kepemimpinan yang tidak menghasilkan perubahan apapun selain ‘nama pemimpinnya’. Sedangkan hal-hal lainnya, berjalan seperti sebelumnya saja. Fakta ini menunjukkan betapa banyaknya ‘leader’ yang tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya. Memangnya apa saja sih kualitas kepemimpinan itu? Banyak teori. Dan banyak kriteria. Anda tidak akan kekurang jenis-jenisnya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya merenungkan apakah kita layak disebut sebagai leader, saya ajak memulainya dengan memahami 5 kualitas kepemimpinan dari sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:
 
1.      Menjadi yang terdepan, bukan sedekar mengikuti petunjuk dari orang lain. Ada sebuah istilah yang sejak lama kita kenal, yaitu; ‘pemimpin boneka’. Kelihatannya saja orang itu yang memimpin, namun sebenarnya dia dikendalikan oleh orang lain. Keliru, jika kita menganggap bahwa istilah itu hanya cocok digunakan pada masa penjajahan, atau ketika suatu negara adi daya mengintervensi negara lain secara politik. Pemimpin boneka juga banyak bertebaran di perusahaan-perusahaan. Hanya saja, ‘kebonekaannya’ terjadi secara sukarela. Lho, kok bisa? Bisa. Caranya; ya sudah, ikuti aja petujunjuk dari boss besar atau atasan yang lebih tinggi. Tinggal di ‘cascade’ kepada bawahan kita. Selesai. Ini lho, jenis pemimpin boneka dalam konteks kita. ‘WOOOOOOY! GUA TERSINGGUNG DISEBUT BONEKA!” Alhamdulillah, bagus kalau begitu. Sehingga mulai sekarang, kita bisa memposisikan diri di garis terdepan perjuangan bersama anggota team yang kita pimpin.
 
2.      Menjadi innovator, bukan sekedar melestarikan apa yang sudah ada. Banyak pemimpin yang harus mengambil alih suatu posisi yang ditinggalkan oleh pemimpin hebat sebelumnya. Sebagai pemimpin hebat, tentu pendahulunya sudah mewariskan banyak hal hebat juga dalam team itu. Namun ketika beliau pergi, maka penggantinya sering terpukau oleh kehebatan pendahulunya. Semuanya sudah ‘tepat’ pada tempat dan proporsinya, begitu system nilai yang kemudian berlaku. Maka tak heran, jika setelah berkali-kali terjadi pergantian kepemimpinan pun tidak ada perubahan yang signifikan di organisasi itu. Benarkah hal itu karena pemimpin terdahulu sudah menjadikan organisasisi itu sedemikian hebatnya? Bukan. Itu karena pemimpin-pemimpin yang menggantikannya kemudian menempatkan dirinya sebagai sekedar pelestari apa yang sudah ada selama ini. What about you?
 
3.      Melahirkan gagasan-gagasan baru, bukan sekedar pelaku kebiasaan lama.  Agak aneh juga ya jika ada pemimpin yang dalam karir kepemimpinannya tidak bisa melahirkan gagasan-gagasan baru. Kemane aje wooooooy….? Jelas sekali jika itu mengindikasikan 2 kemungkinan. Sang pemimpin tidak menjalankan tugasnya, atau hanya menjadi pelaku dari kebiasaan lama. Menarik juga ketika ada orang yang jujur mengakui bahwa sebagai pemimpin beliau bukan tipe pemikir. “Sulit untuk melahirkan gagasan baru bagi orang yang bukan pemikir,” katanya. Sahabatku, gagasan baru itu tidak harus besar. Tidak harus dipikir rumit. Sering bahkan dihasilkan dari sebuah pertanyaan sederhana seperti ini;”Kalau kita melakukannya dengan cara begini, hasilnya bagaimana ya?” So, start from there, wherever you are.
 
4.      Mencari terobosan, bukan sekedar terkungkung penjara rutinitas belaka.  Bisa dipastikan jika setiap kemandekan yang dialami oleh suatu organisasi terjadi karena orang-orang didalam organisasi itu tidak menemukan ‘jalan keluar’ dari pekerjaan rutin yang dilakukan begitu-begitu saja sepanjang waktu. Padahal, kita tahu bahwa apa yang sesuai saat ini, mungkin sudah obsolete 5 atau 10 tahun lagi. Kita memahami itu sambil tetap kukuh berpegang pada praktek dan cara-cara yang sudah kita gunakan sejak 5 atau 10 tahun yang lalu. Maka itu artinya hari ini, kita sudah mulai memasuki lorong-lorong dead-end menuju kebuntuan. Orang-orang hanya akan bisa membebaskan diri dari penjara rutinitas itu, jika mampu mencari terobosan. Siapakah penaggungjawab ‘orang-orang itu’ itu? Karena kita leadernya, ya kitalah penanggungjawabnya. So, tugas mencari terobosan itu ada pada pundak kita yang telah terlanjur berani menyodorkan diri untuk menjadi pemimpin mereka.
 
5.      Selalu bertanya; ‘Setelah ini, apa lagi ya?’.  Tidak pernah ada kata selesai bagi orang-orang yang senantiasa membiarkan otaknya terjaga. Bangun. Melek. Dan terus berputar. Karena orang-orang seperti itu tidak pernah berhenti meski ‘baru saja’ menyelesaikan sebuah tugas yang sangat besar. Bahkan, dalam tidur pun mereka bermimpi tentang sesuatu yang mungkin bisa dilakukannya lebih baik bagi dirinya sendiri. Bagi orang lain. Bagi organisasi yang dipimpinnya. Bagi dunia. Karena mereka percaya, bahwa seperti halnya Tuhan yang tidak pernah berhenti berkarya; Tuhan suka sekali pada hambanya yang terus menerus mengeksplorasi diri melalui pertanyaan; “setelah ini, apa lagi?” Dari pertanyaan sederhana itulah inovasi lahir. Pemikiran baru muncul. Gagasan brilian berlompatan. So, keep asking; “Setelah ini, apa lagi?”
 
Perusahaan membutuhkan leaders yang memiliki ke-5 kualitas diatas. Karena tantangan bisnis yang dihadapi oleh perusahaan semakin hari semakin besar. Bisa berupa tantangan yang datang dari luar atau kompetitor yang terus menerus menggerus pangsa pasar. Bisa juga yang datang dari internal perusahaan sendiri berupa visi dan misi serta target-target pertumbuhan yang semakin menantang. Tanpa ke-5 kualitas itu? Seseorang hanya akan menjadi semakin frustrasi, dan akhirnya tanpa daya menyerah kepada keadaan. Sebaliknya, mereka yang memiliki ke-5 kualitas itu selalu menjadi leader yang bisa diandalkan untuk membawa team yang dipimpinnya menuju pencapaian tinggi. Jika sekarang Anda berencana untuk pergi ke toilet, siapkan pertanyaan ini; mengapa Anda layak disebut leader? Kepada siapa pertanyaan itu diajukan? Kepada dinding toilet yang dilapisi cermin.
 
milis wordsmartcenter
 www.dadangkadarusman.com

Senin, 30 Januari 2012

6 Tanda Pria Sedang Jatuh Cinta



     Bagi beberapa cewek, ia seringkali kurang peka akan keadaan sekitar. Ia tidak menyadari bahwa ada seorang pria yang sedang jatuh hati kepadanya. Pria tersebut telah bersusah payah mengirimkan “sinyal cintanya”, namun apa daya sang cewek hanya memberikan respon ala-kadarnya . Sikapnya acuh tak acuh seakan tak ada yang sedang terjadi. Bahkan terkadang, ada yang memilih untuk “belaga” pikun. Nah, kira-kira apa sih tandanya kalo pria sedang kasmaran?  Berikut ini gue coba bahas berdasarkan pengalaman pribadi. Ya..biar kamunya nggak nyesel aja. Sayang kan kalo ternyata pria tersebut adalah pria idaman kamu yang akhirnya berpaling ke lain hati karena tidak mendapat respon yang cukup baik darimu :P 


1. Pedekate
Pedekate merupakan hal yang sudah tidak  asing lagi. Banyak hal yang biasa dilakukan oleh seorang pria pada saat melakukan pedekate, misalnya saja dengan sering SMS, BBM, dan menelpon cewek pujaan hatinya. Hampir setiap hari, ponsel si cewek selalu berdering oleh panggilan telepon maupun SMS, walau hal tersebut hanya  ucapan selamat pagi, selamat makan, atau sekedar menyanyakan kabar. Si pria akan menjadi sangat perhatian terhadap cewek idamannya tersebut!
Contoh:
  • “Hai, selamat pagi! Selamat beraktivitas ya ^_^”,
  • “Hai manis, apa kabar? :), atau yang lebih ekstrim
  • “Sang mentari begitu indah, tapi tidak bagiku. Sang rembulan juga indah, namun tidak pula bagiku. Bagiku yang paling indah adalah bumi, karena di bumi ada orang yang aku kagumi, yaitu kamu! ^^”
Pedekate juga bisa dilakukan melalui dunia maya, misalnya saja dengan sering mengomentari foto ataupun pesan dinding Facebook. Setiap foto yang di upload oleh si cewek, si pria selalu rajin untuk memberikan komentar. Begitupula dengan Pesan Dinding, si pria akan berusaha untuk tak pernah absen dalam memberikan komentarnya :D 

2. Salah Tingkah
Pria yang sedang jatuh cinta, biasanya suka salah tingkah bila berhadapan dengan wanita pujaannya. Gayanya menjadi kikuk, wajahnya merah padam, keringat dingin, bahkan menjadi gagap saat berbicara. Ia terlihat bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Dan, biasanya jika sudah seperti itu, ia akan berusaha untuk mengalihkan perhatian si cewek. Ya.. seorang pria tau malu juga kaliii! :P 

3. Lebih Memperhatikan Penampilan
Pria yang sedang kasmaran biasanya akan lebih peduli akan penampilannya. Jika selama ini gayanya amburadul, maka si pria akan berusaha untuk lebih rapi. Yang awalnya berambut gondrong, si pria rela memangkasnya demi si cewek idaman :D Yang dulunya kalo kemana-mana pake sandal japit, sekarang selalu menggunakan sepatu. Bisa dibilang, gayanya lebih parlente dari biasanya! :lol: 

4. Semangat 45 Saat Diajak Ngobrol
Pria yang sedang kasmaran akan senang bukan kepalang saat si cewek memberikan respon positif kepadanya walau itu hanya sekedar ngobrol. Ia akan begitu excited dengan lawan bicaranya. Si pria selalu berusaha membuat si cewek happy dengan canda, bahkan kekonyolannya sekalipun. Ya, walau terkadang terlihat garing! :lol: Tapi yang jelas, si pria akan berusaha semaksimal mungkin agar cewek idamannya tersebut merasa nyaman saat ngobrol bersamanya :)
Aku Cinta Kamu
Gambar diculik dari sini dan diedit sedemikian rupa :)

5. Cemburuan
Pria yang sedang mengagumi seorang cewek biasanya memiliki sifat cemburu yang tinggi jika cewek yang dikaguminya tersebut sedang dekat dengan pria lain. Darahnya selalu menggebu-gebu, seakan ingin menerkam pria tersebut. Ia tak rela jika cewek idamannya jatuh ke pangkuan pria lain.
Contoh :
  • Cewek: “Lo kenal nggak sama si Bryan?”
  • Cowok: “Iya, gue kenal. Emang kenapa?”
  • Cewek: “Kayaknya dia suka gue deh, soalnya dia perhatian banget.”
  • Cowok: “Ooo.. Hehe…”
Yup, si pria akan memberi jawaban yang datar tanpa ekspresi sedikitpun. Itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang sebenarnya Ia rasakan. Di lubuk hatinya, si pria sangat keki dan geram mendengar semua itu. Dan kamu tahu, kadangkala seorang pria sangat susah untuk mengekspresikan perasaannya itu. Ia hanya dapat memendamnya begitu saja. Tragis, bukan? :P 

6. Rela Berkorban
Pria yang sedang kasmaran akan rela berbuat apa saja untuk menarik perhatian cewek idamannya. Jika sang cewek memerlukan bantuan, Ia dengan sigap akan datang membantu. Si pria akan rela meninggalkan aktivitas atau pekerjaannya hanya untuk membantu si cewek. Walaupun jarak atau lokasi cukup jauh, bagi si pria itu tidak menjadi soal :D   Itu semua dilakukan agar si cewek beranggapan bahwa dia sangat care terhadapnya :mrgreen: .
  • Cewek: “Bisa bantuin aku nggak? Genteng kosan aku bocor nih.”
  • Cowok: “86! 5 menit lagi ya aku kesitu. See ya!”, atau…
  • Cewek: “Tugas Bahasa Inggrisnya susah amat nih, bisa tolong kerjain?”
  • Cowok: “Bisa bangeeeeet! Ntar aku ke rumah kamu deh :)
Sebenarnya masih banyak lagi sih tanda-tanda seorang pria yang sedang kasmaran. Tapi, gue rasa segini aja sudah lebih dari cukup. Bukan begitu teman-teman?! Bukaaaaaaan! :lol: 

 http://narzis.net/2011/09/6-tanda-pria-sedang-jatuh-cinta.html